Kamis, 29 Januari 2009

JALAN PASIF

Oleh: Paskalis Bagus Aryawan

Jalan pasif. Itulah jalan yang aku tempuh berkaitan dengan kepercayaan akan Tuhan, surga-neraka, beserta segala macam hal yg mengikutinya yang berbau adi kodrati. Alasannya. Pertama, tak terjangkau oleh pikiranku. Kedua, tak banyak manfaat yang dapat aku petik dari membicarakan itu semua terhadap perkembangan spiritualitasku.

Aku pribadi memahami Tuhan sebagai “Yang Tak Terkatakan” dan “Yang Tak Terpikirkan”. Siapa sebenarnya itu Tuhan? Apakah Dia itu satu dan bermanifestasi dalam bentuk banyak dewa? Atau, apakah Dia itu satu dengan tiga pribadi? Atau, apakah Dia itu satu, dan titik, pokoknya satu? Apakah Dia jauh? Apakah Dia dekat? Atau, apakah Dia jauh sekaligus dekat? Bagiku itu tidak penting.

Pemahaman, yang akhirnya menimbulkan keyakinan, akan Tuhan sebagai “Yang Tak Terkatakan” dan “Yang Tak Terpikirkan” ini lahir dari keprihatinanku akan banyaknya pertentangan antar pemeluk agama di dunia ini. Yang rela melakukan penghinaan, pendiskriminasian, hingga pembunuhan terhadap pemeluk agama lain demi apa yang “diyakininya”. Hal tersebut kadang menimbulkan kesinisan dan kekecewaan: “Ini kah perdamaian dan cinta kasih yang ditawarkan itu?”

Keyakinan dan pemahamanku ini bukannya tanpa konsekwensi. Keyakinan dan pemahamanku akan Tuhan yang demikian ini sering kali menimbulkan salah tangkap dari orang-orang yang kurang memahaminya. Cap sebagai atheis pun sering kali distempelkan pada diriku. Lebih-lebih dari orang yang begitu “ekstrim fundamentalis” terhadap agamanya. Yang begitu gampangnya menganggap ajaran dan pemahaman di luar agamanya adalah salah. Yang menganggap orang yang tidak seagama adalah orang yang berdosa. Orang yang perlu ditobatkan. Orang yang kafir. Calon penghuni “neraka”.

Apakah aku seorang atheis seperti yang dituduhkan? Yang aku tahu, hatiku meyakini adanya Tuhan. Tidak ada teori dari Tuhan yang aku yakini ini. Tidak ada argumen yang kuat dari keyakinanku ini. Tidak ada bukti yang kuat yang dapat membuktikan keberadaanNya, di mana semua bukti yang ada pasti bisa dibantah. Mungkin karena itulah keyakinan ini disebut iman.

Yang jelas, yang aku tahu, pemahamanku akan Tuhan sebagai “Yang Tak Terkatakan” dan “Yang Tak Terpikirkan” ini membuatku lebih terbuka dalam memahami keunikan iman masing-masing pemeluk agama. Begitu “Tak Terkatakan” dan “Tak Terpikirkannya” Tuhan sehingga ada banyak konsep tentang Tuhan. Kadang ada kemiripan dan sering kali banyak perbedaan. Mana yang benar dan mana yang salah akhirnya tidak lagi menjadi suatu yang penting bagiku untuk diperdebatkan. Apalagi untuk dipertentangkan hingga tumpahnya darah.

Begitu juga yang berkaitan dengan konsep surga-neraka, alam setan, kahyangan, surga barat, alam brahma, atau nirvana. Yang aku yakini bahwa siapa yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan. Siapa yang berbuat buruk akan mendapatkan keburukan. Entah apa sebutannya dan bagaimana bentuknya, sekali lagi itu tidak penting.

Lalu, apa yang penting bagiku? Yaitu, bagaimana kelahiranku dan hidupku di dunia ini tidak sia-sia, berguna bagi semua. Bagaimana aku dapat menjadi penghibur bagi mereka yang berduka. Bagaimana aku dapat menjadi penyejuk bagi mereka yang mengalami kekeringan hati. Bagaimana aku dapat menjadi pemberi harapan bagi mereka yang mengalami keputusasaan. Bagaimana aku dapat menjadi ....... bagi mereka yang ........

Apa komentar Anda?

Tidak ada komentar: