Jumat, 21 November 2008

MEDITASI KEMATIAN

Oleh: Paskalis Bagus Aryawan

Saya pernah punya pengalaman di mana saya merasakan kematian begitu dekat dengan saya. Bahwa sebentar lagi, dalam hitungan menit atau detik, saya mati. Ketika berbaring di tempat tidur, badan saya lemah tak bisa digerakkan sama sekali. Suhu tubuh saya menurun, dingin. Pandangan saya mengabur. Telinga, ini yang aneh, mendengar suara-suara yang tidak lazim. Dan saya merasa seolah ada sesuatu, saya pikir roh saya, yang mendesak ingin keluar dari badan.

Kala itu, saya dilingkupi perasaan takut luar biasa. Takut mati karena belum siap untuk mati. Entah dari mana keyakinan bahwa saya akan mati itu muncul. Tetapi, keyakinan itu muncul begitu kuatnya dan tiba-tiba. Saya benar-benar tak berdaya untuk melawannya. Timbul perasaan benci, jijik, dan muak terhadap diri saya sendiri. Mengapa selama ini saya tidak menyiapkan kematian saya dengan baik, sehingga bila mati sewaktu-waktu saya siap menyambutnya?

Menit demi menit berlalu. Saya belum juga mati. Berangsur-angsur suhu tubuh saya naik kembali. Mata saya mulai dapat melihat langit-langit kamar dengan jelas. Pendengaran saya pun kembali normal. Dan, horeee.... saya benar-benar tidak jadi mati.

Ketika seorang teman mendengar cerita pengalaman saya ini, ia meminjamkan sebuah buku bagus kepada saya. Judulnya saya lupa, tapi saya telah meringkas isinya. Buku ini membahas tentang latihan meditasi untuk mempersiapkan kematian. Selain teknik meditasi, buku tersebut juga membahas seputar kematian menurut kebijaksanaan Timur. Penulis buku ini adalah seorang Lama Tibet. Kalau tidak salah bernama Gehlek Rinpoche.

Dalam buku itu dikatakan bahwa kematian itu pasti. Tak seorang pun dapat menghindarinya. Tak seorang pun dapat hidup kekal. Oleh karena itu, daripada memikirkan bagaimana menghindari kematian, lebih baik kita memikirkan atau membayangkan kematian itu sendiri.

Memikirkan atau membayangkan kematian tidak hanya akan membantu kita mengurangi ketakutan akan kematian. Memikirkan atau membayangkan kematian juga akan meletakkan dasar bagi kita untuk menggunakan kesempatan mentransformasikan proses kematian ke dalam proses pencerahan. Atau, minimal kita dapat memiliki kematian yang lebih baik.

Selama proses meninggal, banyak hal yang terjadi dan dapat tampak sebagai hal yang menakutkan. Pendengaran dan penglihatan akan berkurang, dan akhirnya sama sekali tidak berfungsi. Kejelasan dan ketenangan pun akan berlalu. Dalam hal ini penting sekali mengingat bahwa kematian adalah proses yang dialami setiap orang. Ini adalah hal yg normal.

Ketika elemen-elemen tubuh seperti bumi, air, api, dan udara larut serta pikiran mulai memasuki proses pemisahan, kita akan mengalami sensasi berat, tenggelam (ini akan tampak sebagai tangan yang menggapai-gapai), ataupun merasakan angin kuat yang bertiup. Itu semua merupakan gejala atau tanda-tanda peleburan internal. Alasan untuk menceritakan tanda dan gejala ini adalah agar kita tidak terkejut. Di mana jika kita mendekatinya, kita dapat fokus dengan mempengaruhi pikiran secara positif.

Ada suatu meditasi untuk mengenali tanda dan gejala ini, agar ketika meninggal kita sudah terbiasa. Inilah visualisasinya:
Saya melihat air sebagai fatamorgana.
Ini adalah elemen bumi sebagai berhenti
dan saya tidak dapat bergerak lagi.
Saya melihat uap seperti cairan tubuh saya mengering
dan saya tidak dapat lagi menelan.
Saya melihat bunga api di ruangan yang gelap seperti segenggam kayu bakar.
Suhu panas tubuhku melemah.
Saya melihat kerlip pantulan sinar lilin ketika berhenti bernafas.
Saya melihat warna keputihan sebagai esensi hakiki dari ayah saya
yang dipisahkan dari esensi hakiki ibu saya.
Dan, warna kemerahan sebagai esensi hakiki ibu saya juga larut.
Saya jatuh dalam kegelapan total
dan meninggalkan tubuh saya.
Saya melihat sinar bulan, rapuh dan terang,
sebagai sifat murni diri saya sendiri.

Perlu diingat, tidak peduli apa yang terjadi pada proses menjelang kematian, atau apapun yang kita lalui. Jangan lupa untuk tetap dalam bingkai pikiran cinta kasih dan welas asih yang positif, atau dalam bingkai pikiran akan Tuhan. Jangan biarkan awan kesedihan dan kekuatiran mengganggu konsentrasi kita. Jika kita dapat mencapai sinar yang terang, kesegaran yang lembut setelah waktu kegelapan, itulah pencapaian yang luar biasa.

Ada satu pelajaran yang kita peroleh dari sini. Jagalah ketenangan ketika mendampingi mereka yang berada dalam sakratul maut. Jangan menangis, atau lebih parah lagi berteriak dengan meraung histeris, apalagi mengguncang-guncang tubuh mereka. Ini akan mengganggu ketenangan mereka yang mau meninggal. Tetaplah tenang. Relakan. Bukankah setiap orang pada akhirnya juga akan mati. Iringilah kepergiannya dengan doa dan senyuman, maka ia pun akan pergi dengan senyuman.

Sayang, tidak semua orang meninggal secara perlahan. Dalam suatu kecelakaan mungkin tidak ada waktu untuk melihat tanda-tanda kematian. Jika kita meninggal tiba-tiba, cobalah untuk mengingat welas asih, atau cobalah untuk mengingat Tuhan. Ini dapat dilatih dengan selalu berlatih kesadaran akan welas asih, akan segala sesuatu yang murni, akan Tuhan setiap hari. Dengan berlatih kesadaran tersebut, kita akan mengingatnya ketika waktunya tiba, dan siap mempertanggung jawabkan perbuatan kita yang selalu didasari atas kesadaran welas asih, segala yang murni, dan Tuhan.

Selamilah dan berlatihlah meditasi kematian mulai saat ini. Sebab, ketika kita tidak mengerti akan kematian, hidup menjadi sangat membingungkan.

Tidak ada komentar: