Oleh: Paskalis Bagus Aryawan
Ituk, tetanggaku adalah seorang yang tuli dan bisu. Sejak lahir si Ituk memiliki kekurangan pada pendengarannya. Akibatnya, sejak kecil si Ituk terasing dengan dunia sekitarnya, khususnya dunia suara. Akibat lanjutnya, si Ituk menjadi orang yang gagu, bisu.
Si Ituk memiliki kebiasaan “aneh”. Sering marah. Ngomel-ngomel sendiri kalau melihat orang ngobrol. Sangkanya mereka membicarakan kekurangannya. Ya..., itulah si Ituk.
Anda. Saya. Kita. Mungkin secara fisik tidak tuli dan bisu seperti si Ituk. Tapi bagaimana dengan batin dan spiritual kita?
Ketika kita melihat orang menderita dan kita berlaku seolah tidak tahu, apakah itu tidak bisa dikatakan tuli? Tuli hati membuat kita bisu dalam karya. Dan sebagaimana si Ituk, ketulian hati dan kebisuan karya kita menumbuhkan perasaan tidak tenang dan curiga terhadap orang lain dalam hati kita.
Mari kita pertajam hati kita agar mampu mendengarkan suara halus Tuhan yang bergema di sana. Membuka kebisuan karya kita dengan selalu mendasarkan tindakan kita pada suara hati yang murni.
Ituk, tetanggaku adalah seorang yang tuli dan bisu. Sejak lahir si Ituk memiliki kekurangan pada pendengarannya. Akibatnya, sejak kecil si Ituk terasing dengan dunia sekitarnya, khususnya dunia suara. Akibat lanjutnya, si Ituk menjadi orang yang gagu, bisu.
Si Ituk memiliki kebiasaan “aneh”. Sering marah. Ngomel-ngomel sendiri kalau melihat orang ngobrol. Sangkanya mereka membicarakan kekurangannya. Ya..., itulah si Ituk.
Anda. Saya. Kita. Mungkin secara fisik tidak tuli dan bisu seperti si Ituk. Tapi bagaimana dengan batin dan spiritual kita?
Ketika kita melihat orang menderita dan kita berlaku seolah tidak tahu, apakah itu tidak bisa dikatakan tuli? Tuli hati membuat kita bisu dalam karya. Dan sebagaimana si Ituk, ketulian hati dan kebisuan karya kita menumbuhkan perasaan tidak tenang dan curiga terhadap orang lain dalam hati kita.
Mari kita pertajam hati kita agar mampu mendengarkan suara halus Tuhan yang bergema di sana. Membuka kebisuan karya kita dengan selalu mendasarkan tindakan kita pada suara hati yang murni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar