Oleh: Paskalis Bagus Aryawan
Dalam falsafah Jawa, TUHAN diibaratkan sebagai API dan manusia adalah percikannya. Sebagai percikan api, manusia memiliki sifat-sifat API, sifat-sifat TUHAN dalam dirinya. Kebaikan, kebijaksanaan, kemurah hatian, kemampuan mencipta (berkreasi), dsb. Manusia pun disebut sebagai gambaran atau citra TUHAN. Mahluk sempurna yang merupakan “tuhan kecil” di dunia ini. Yang diberi kuasa untuk memelihara kehidupan di dunia ini.
Sayang, karena kepicikannya, “tuhan kecil” ini berlaku selayaknya “tuhan besar” (bukan TUHAN). Kalau TUHAN bertindak berdasarkan kasih, karena DIA adalah kasih, maka “tuhan besar” bertindak berdasarkan egonya semata. Ini terjadi karena manusia memisahkan diri dari TUHANnya. Namun, sebagaimana percikan api akan hilang musnah bila terpisah dari sumber API, manusia demikian akan hilang musnah karena terpisah dari TUHAN, selaku sumbernya.
Dalam upaya mendekatkan diri pada TUHAN dan semakin menjadi gambaran nyata TUHAN di dunia ini, orang Jawa melakukan berbagai macam lelakhu. Yang paling populer dari sekian banyak lelakhu adalah pathi geni, yaitu lelakhu dalam rupa tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur selama tiga hari tiga malam tanpa putus. Pemikirannya adalah bahwa Tuhan tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Lalu, mengapa hanya tiga hari? Ya, mungkin karena di situlah batas kemampuan manusia. Kalau selamanya ya nanti mati. Dan malah jadi dosa. Karena namanya bunuh diri.
Lebih dari itu, pathi geni memiliki nilai pembelajaran yang sangat tinggi. Di mana, dalam menjalankan pathi geni, para pelaku digembleng dengan deraan siksaan fisik dan batin. Tubuh yang lemas karena lapar dan haus, dan juga kanthuk yang mendera dan harus ditahan, tentunya menimbulkan segala macam reaksi batin yang harus diolah selama menjalankan lelakhu. Kalau sampai kalah, mereka dianggap gagal dalam lelakhu. Namun, jika mereka berhasil, mereka akan menemukan pencerahan. Para pelaku ini menjadi sadar bahwa meskipun memiliki sifat-sifat TUHAN, mereka tidak sebanding dengan TUHAN. Pasrah sumarah, penyerahan diri, pada TUHAN pun muncul dan kerendahan hati menjadi kereta mereka dalam meniti kehidupan ini.
Pertanyaannya adalah, haruskah kita berlaku seperti itu? Kalau mau ya silakan, kalau tidak ya tidak apa-apa. Di sini saya mencoba untuk memunculkan alternatif lain yang “lebih mudah” dalam artian tertentu, tetapi bisa jadi “lebih sukar” kalau kita tidak memiliki kedisiplinan diri dalam menjalankannya. BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN, itulah alternatif yang coba saya munculkan. Alternatif ini saya ambil secara bebas dari pemikiran Ignatius, seorang suci, filsuf, dan teolog dari Loyola, Spanyol. Ya, kita sebut saja Ignatius Loyola.
Ignatius Loyola membagi kehidupan rohani dalam tiga tingkatan. Tingkat pertama adalah menjalankan hukum. Tingkat berikutnya adalah lepas bebas. Dan, tingkat terakhir adalah BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN, atau “menjadi tuhan”.
Mereka yang baru sampai tingkat pertama dalam kehidupan rohaninya adalah mereka yang menjalankan atau melakukan sesuatu berdasarkan boleh atau tidak boleh sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku. Bisa aturan dan hukum agama. Bisa juga aturan dan hukum negara. Mereka yang baru sampai tahap ini biasanya sangat kaku. Dalam artian tertentu “kurang” toleran. Meskipun demikian, orang-orang ini sudah memiliki benih, atau percikan api, kerohanian di dalam dirinya.
Lalu mereka yang sampai tahap kedua, tahap lepas bebas, adalah mereka yang tidak terikat kaku dengan aturan dan hukum yang ada. Mereka ini bertindak lebih berdasarkan kesadaran hati. “Aku menolong pengemis yang kelaparan bukan semata karena aturan dan hukum agamaku menyarankan demikian, tetapi lebih karena perbuatan itu menurutku adalah baik dan patut dikembangkan.” Dalam tataran ekstrim, orang-orang ini berani “melanggar” aturan dan hukum yang ada bila masuk dalam situasi, kondisi, moment, dan kasus tertentu.
Kemudian yang terakhir, sebagai puncak tingkatan rohani, adalah BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN. Mereka yang sudah sampai tahap ini mendasarkan hidupnya pada Tuhan. Contohnya ketika mereka berjalan dan melihat paku atau pecahan gelas (beling) di jalan, mereka akan berpikir: “Kalau TUHAN itu aku, apa yang akan dilakukan TUHAN? Membiarkan paku atau beling itu di jalan, dan menyalahkan mereka yang kurang hati-hati lalu menginjaknya. Atau, mengambil dan menyingkirkannya ke tempat yang tepat agar orang yang lewat tidak terluka karenanya.” Dan, mereka sungguh melakukan itu. Mengambil paku atau beling yang ada dan menyingkirkannya ke tempat yang tepat atau aman.
Contoh lainnya, ketika mereka (sebagai suami) mendapati istrinya sedang berselingkuh di depan mata, mereka berpikir: “Kalau TUHAN itu aku, apa yang akan dilakukan TUHAN?” Kira-kira apa ya yang akan dilakukan Tuhan? He, he, he........... Yang jelas, TUHAN pasti nggak kalap, tidak terus membunuh “istri” dan “selingkuhan istrinya”.
Contoh lainnya lagi? Silakan buat sendiri. Andai TUHAN itu pelajar. Andai TUHAN itu wanita karier. Andai TUHAN itu pemimpin negara. Andai TUHAN itu ...............
Seperti telah disinggung sebelumnya, BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN ini gampang-gampang susah. “Gampang”, karena tidak butuh hafal Kitab Suci untuk dapat berpikir seperti TUHAN. Yang dibutuhkan adalah hati yang hening dan pikiran yang jernih. Cara melatihnya bisa dengan banyak-banyak meditasi. Kemudian ini juga “susah”, karena melakukan apa yang “dipikirkan TUHAN” itu butuh kedisiplinan dan keteguhan hati. Banyak tidak enaknya. Lha wong ditampar pipi kiri kok malah memberikan pipi kanan. Lha wong dikhianati mentah-mentah kok malah mengampuni dengan pengampunan penuh dan tulus.
Sebagai tenik berbuat baik, BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN ala Ignatius Loyola ini dapat jadikan alternatif bagi kita yang merindukan menjadi orang yang baik. Selamat mencoba.