Rabu, 14 Mei 2008

TULI DAN BISUKAH AKU?

Oleh: Paskalis Bagus Aryawan

Ituk, tetanggaku adalah seorang yang tuli dan bisu. Sejak lahir si Ituk memiliki kekurangan pada pendengarannya. Akibatnya, sejak kecil si Ituk terasing dengan dunia sekitarnya, khususnya dunia suara. Akibat lanjutnya, si Ituk menjadi orang yang gagu, bisu.

Si Ituk memiliki kebiasaan “aneh”. Sering marah. Ngomel-ngomel sendiri kalau melihat orang ngobrol. Sangkanya mereka membicarakan kekurangannya. Ya..., itulah si Ituk.

Anda. Saya. Kita. Mungkin secara fisik tidak tuli dan bisu seperti si Ituk. Tapi bagaimana dengan batin dan spiritual kita?

Ketika kita melihat orang menderita dan kita berlaku seolah tidak tahu, apakah itu tidak bisa dikatakan tuli? Tuli hati membuat kita bisu dalam karya. Dan sebagaimana si Ituk, ketulian hati dan kebisuan karya kita menumbuhkan perasaan tidak tenang dan curiga terhadap orang lain dalam hati kita.

Mari kita pertajam hati kita agar mampu mendengarkan suara halus Tuhan yang bergema di sana. Membuka kebisuan karya kita dengan selalu mendasarkan tindakan kita pada suara hati yang murni.

Senin, 12 Mei 2008

CINTA KASIH = METTA KARUNA

Oleh: Paskalis Bagus Aryawan

Banyak definisi tentang cinta kasih. Banyak ragam orang mengekspresikan cinta kasih. Sebenarnya, apa itu cinta kasih?

Terlepas dari kekaguman saya terhadap Sang Buddha (oh ya saya bukan seorang Buddhis) definisi cinta kasih dari Sang Buddha adalah yang paling berkesan di hati saya. Menurut Sang Buddha, cinta kasih adalah metta karuna. Metta berarti memberikan kebahagiaan. Karuna berarti melepaskan penderitaan. Itulah hakekat cinta kasih. Perbuatan (baik melalui mulut, tubuh, maupun pikiran) memberikan kebahagiaan dan melepaskan penderitaan.

Lalu, siapa yang perlu dicintai, dikasihi? Tentu saja semua mahluk, baik itu diri kita, sesama manusia, binatang, mereka yang telah meninggal, bahkan setan pun harus dikasihi.

Setan pun harus dikasihi? Ya. Mengasihi mereka yang mengasihi kita adalah hal yang mudah. Mengasihi mereka yang menjahati kita itu adalah hal yang sulit. Kita disebut PECINTA ketika kita bisa mengasihi mereka yang jahat kepada kita. Termasuk setan. Soal setan jahat dengan kita, itu urusan setan. Urusan PECINTA adalah mencintai.

Tapi, apakah itu tidak dosa? Tentu saja tidak. Itu malah suatu tindakan yang sangat terpuji. Mencintai setan bukan berarti kita mengikuti apa yang diingini dan dibujukkan setan. Mencintai setan di sini diartikan sebagai mengasihi setan sebagai bagian dari mahluk ciptaan Tuhan. Tidak setuju dengan perbuatannya, bukan berarti harus membencinya. Bila kita membenci setan pada dasarnya kita sudah kalah, karena kebencian sudah meraja dalam diri kita. Kebencian itu sendiri adalah bagian dari setan.

BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN

Oleh: Paskalis Bagus Aryawan

Dalam falsafah Jawa, TUHAN diibaratkan sebagai API dan manusia adalah percikannya. Sebagai percikan api, manusia memiliki sifat-sifat API, sifat-sifat TUHAN dalam dirinya. Kebaikan, kebijaksanaan, kemurah hatian, kemampuan mencipta (berkreasi), dsb. Manusia pun disebut sebagai gambaran atau citra TUHAN. Mahluk sempurna yang merupakan “tuhan kecil” di dunia ini. Yang diberi kuasa untuk memelihara kehidupan di dunia ini.

Sayang, karena kepicikannya, “tuhan kecil” ini berlaku selayaknya “tuhan besar” (bukan TUHAN). Kalau TUHAN bertindak berdasarkan kasih, karena DIA adalah kasih, maka “tuhan besar” bertindak berdasarkan egonya semata. Ini terjadi karena manusia memisahkan diri dari TUHANnya. Namun, sebagaimana percikan api akan hilang musnah bila terpisah dari sumber API, manusia demikian akan hilang musnah karena terpisah dari TUHAN, selaku sumbernya.

Dalam upaya mendekatkan diri pada TUHAN dan semakin menjadi gambaran nyata TUHAN di dunia ini, orang Jawa melakukan berbagai macam lelakhu. Yang paling populer dari sekian banyak lelakhu adalah pathi geni, yaitu lelakhu dalam rupa tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur selama tiga hari tiga malam tanpa putus. Pemikirannya adalah bahwa Tuhan tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Lalu, mengapa hanya tiga hari? Ya, mungkin karena di situlah batas kemampuan manusia. Kalau selamanya ya nanti mati. Dan malah jadi dosa. Karena namanya bunuh diri.

Lebih dari itu, pathi geni memiliki nilai pembelajaran yang sangat tinggi. Di mana, dalam menjalankan pathi geni, para pelaku digembleng dengan deraan siksaan fisik dan batin. Tubuh yang lemas karena lapar dan haus, dan juga kanthuk yang mendera dan harus ditahan, tentunya menimbulkan segala macam reaksi batin yang harus diolah selama menjalankan lelakhu. Kalau sampai kalah, mereka dianggap gagal dalam lelakhu. Namun, jika mereka berhasil, mereka akan menemukan pencerahan. Para pelaku ini menjadi sadar bahwa meskipun memiliki sifat-sifat TUHAN, mereka tidak sebanding dengan TUHAN. Pasrah sumarah, penyerahan diri, pada TUHAN pun muncul dan kerendahan hati menjadi kereta mereka dalam meniti kehidupan ini.

Pertanyaannya adalah, haruskah kita berlaku seperti itu? Kalau mau ya silakan, kalau tidak ya tidak apa-apa. Di sini saya mencoba untuk memunculkan alternatif lain yang “lebih mudah” dalam artian tertentu, tetapi bisa jadi “lebih sukar” kalau kita tidak memiliki kedisiplinan diri dalam menjalankannya. BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN, itulah alternatif yang coba saya munculkan. Alternatif ini saya ambil secara bebas dari pemikiran Ignatius, seorang suci, filsuf, dan teolog dari Loyola, Spanyol. Ya, kita sebut saja Ignatius Loyola.

Ignatius Loyola membagi kehidupan rohani dalam tiga tingkatan. Tingkat pertama adalah menjalankan hukum. Tingkat berikutnya adalah lepas bebas. Dan, tingkat terakhir adalah BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN, atau “menjadi tuhan”.

Mereka yang baru sampai tingkat pertama dalam kehidupan rohaninya adalah mereka yang menjalankan atau melakukan sesuatu berdasarkan boleh atau tidak boleh sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku. Bisa aturan dan hukum agama. Bisa juga aturan dan hukum negara. Mereka yang baru sampai tahap ini biasanya sangat kaku. Dalam artian tertentu “kurang” toleran. Meskipun demikian, orang-orang ini sudah memiliki benih, atau percikan api, kerohanian di dalam dirinya.

Lalu mereka yang sampai tahap kedua, tahap lepas bebas, adalah mereka yang tidak terikat kaku dengan aturan dan hukum yang ada. Mereka ini bertindak lebih berdasarkan kesadaran hati. “Aku menolong pengemis yang kelaparan bukan semata karena aturan dan hukum agamaku menyarankan demikian, tetapi lebih karena perbuatan itu menurutku adalah baik dan patut dikembangkan.” Dalam tataran ekstrim, orang-orang ini berani “melanggar” aturan dan hukum yang ada bila masuk dalam situasi, kondisi, moment, dan kasus tertentu.

Kemudian yang terakhir, sebagai puncak tingkatan rohani, adalah BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN. Mereka yang sudah sampai tahap ini mendasarkan hidupnya pada Tuhan. Contohnya ketika mereka berjalan dan melihat paku atau pecahan gelas (beling) di jalan, mereka akan berpikir: “Kalau TUHAN itu aku, apa yang akan dilakukan TUHAN? Membiarkan paku atau beling itu di jalan, dan menyalahkan mereka yang kurang hati-hati lalu menginjaknya. Atau, mengambil dan menyingkirkannya ke tempat yang tepat agar orang yang lewat tidak terluka karenanya.” Dan, mereka sungguh melakukan itu. Mengambil paku atau beling yang ada dan menyingkirkannya ke tempat yang tepat atau aman.

Contoh lainnya, ketika mereka (sebagai suami) mendapati istrinya sedang berselingkuh di depan mata, mereka berpikir: “Kalau TUHAN itu aku, apa yang akan dilakukan TUHAN?” Kira-kira apa ya yang akan dilakukan Tuhan? He, he, he........... Yang jelas, TUHAN pasti nggak kalap, tidak terus membunuh “istri” dan “selingkuhan istrinya”.

Contoh lainnya lagi? Silakan buat sendiri. Andai TUHAN itu pelajar. Andai TUHAN itu wanita karier. Andai TUHAN itu pemimpin negara. Andai TUHAN itu ...............

Seperti telah disinggung sebelumnya, BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN ini gampang-gampang susah. “Gampang”, karena tidak butuh hafal Kitab Suci untuk dapat berpikir seperti TUHAN. Yang dibutuhkan adalah hati yang hening dan pikiran yang jernih. Cara melatihnya bisa dengan banyak-banyak meditasi. Kemudian ini juga “susah”, karena melakukan apa yang “dipikirkan TUHAN” itu butuh kedisiplinan dan keteguhan hati. Banyak tidak enaknya. Lha wong ditampar pipi kiri kok malah memberikan pipi kanan. Lha wong dikhianati mentah-mentah kok malah mengampuni dengan pengampunan penuh dan tulus.

Sebagai tenik berbuat baik, BERPIKIR DAN BERTINDAK SEPERTI TUHAN ala Ignatius Loyola ini dapat jadikan alternatif bagi kita yang merindukan menjadi orang yang baik. Selamat mencoba.